Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Perkembangan bisnis erat kaitannya dengan produktifitas karyawan. Itu sebabnya produktivitas kerja karyawan, menjadi bencana tersendiri bagi sebuah perusahaan apabila etos kerja dan produktifitas karyawan menurun.  

produktifitas karyawan

Seringkali pimpinan perusahaan menyalahkan karyawan jika produktifitasnya menurun. Karyawan ditegur, dimarahi atau bahkan dipecat karena tidak mampu memenuhi target sebagaimana yang telah ditentukan perusahaan.

Padahal, menurunnya produktifitas belum tentu karena kesalahan karyawan semata, tapi ada penyebab lain di dalam perusahaan yang menjadi pemicu menurunnya produktifitas.

Jika penyebab tersebut tidak diatasi, percuma saja memecat karyawan yang kurang produktif dan menggantinya dengan karyawan baru, karena ujung-ujungnya karyawan baru itupun produktifitasnya juga tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Untuk meningkatkan produktivitas karyawan atau setidaknya mempertahankan produktifitas karyawan, beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan. Pengertian produktivitas karyawan tentu bisa saja berbeda dari satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Semua tergantung KPI , indikator produktivitas karyawan dan rumus produktivitas karyawan dari manajemen.

Imbalan yang Sepadan

Siapapun tidak mungkin dapat bekerja dengan maksimal jika hasil dari pekerjaan yang ditekuninya masih belum dapat menutupi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarganya. Karena penghasilan yang diperoleh dari tempatnya bekerja belum dapat menutupi kebutuhan hidup, maka hampir bisa dipastikan dia akan mencari pekerjaan sampingan.

Hal itulah yang membuat tenaga dan pikirannya terbagi, dan membuatnya tidak bekerja dengan sepenuh hati. Sehingga berdampak pada menurunnya produktifitas karyawan dalam bekerja.

Saat pemerintah menetapkan UMR (Upah Minimum Regional), sebenarnya tidak hanya untuk melindungi tenaga kerja, tapi secara tidak langsung juga memberikan perlindungan terhadap perusahaan tempat karyawan bekerja.

Karena seorang karyawan hampir bisa dipastikan akan bekerja dengan maksimal, jika imbalan yang dia peroleh dari tempatnya bekerja bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, dan standar untuk dapat mencukupi kebutuhan hidup tersebut adalah UMR.

Dalam menghitung produktivitas karyawan. Imbalan tidak hanya sekedar gaji, tapi juga bonus kerja, jenjang karir serta perhatian yang lebih. Seorang pimpinan juga wajib memikirkan uang makan, uang transport serta tunjangan yang dapat menutupi kebutuhan hidup karyawan. Jika kebutuhan hidupnya terpenuhi, produktifitas karyawan dijamin akan bertahan atau bahkan mengalami peningkatan.

Suasana Kerja yang Menyenangkan

meningkatkan produktivitas karyawan

Lingkungan mempengaruhi kondisi fisik dan kejiwaan seseorang, begitu juga dengan lingkungan kerja. Seorang karyawan akan sulit untuk dapat bekerja dengan maksimal jika lingkungan tempat dia bekerja tidak nyaman.

Lingkungan yang dimaksud bisa dalam arti fisik yaitu ruang tempat karyawan bekerja, dapat pula dalam arti non-fisik seperti aturan-aturan perusahaan yang membelenggu dan tidak berpihak kepada karyawan, pimpinan yang otoriter dan tidak mau menerima masukan, tuntutan kerja yang melebihi kemampuan tanpa ada kebijakan untuk pengembangan diri karyawan, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, pimpinan wajib mengkondisikan suasana kerja yang nyaman bagi karyawan. Berikan ruang kerja yang nyaman sehingga karyawan enjoy pada saat menjalankan tugas dan kewajibannya, bila perlu ciptakan ruang kerja layaknya suasana rumah.

Dengan cara demikian, karyawan akan lebih betah berlama-lama di tempat kerja. Dia tidak akan merasa tertekan saat harus lembur, bahkan menikmatinya, sehingga dengan sendirinya produktifitas karyawan akan meningkat.

Menciptakan suasana kerja yang menyenangkan tidak hanya dengan mengkondisikan ruang kerja yang familier tapi juga menciptakan hubungan yang harmonis antar karyawan dan antara pimpinan dengan karyawan.

Jika suasana kekeluargaan sudah terbangun, hubungan antar personal di dalam tubuh perusahaan sudah tidak lagi layaknya hubungan antara pimpinan dengan karyawan, tapi sudah seperti hubungan antar keluarga.

Hal tersebut dengan sendirinya akan menghapus sikap otoriter seseorang pimpinan, karena masukan dari karyawan tidak lagi dipandang sebagai suatu tuntutan tetapi lebih sebagai saran atau masukan.

Kepedulian pimpinan terhadap karyawanpun akan meningkat, karena kedekatan hubungan membuat pimpinan tidak lagi memandang karyawan sebagai anak buah melainkan seperti anggota keluarga sendiri. Sehingga kesejahteraan dan masa depan dari karyawan akan selalu mendapat perhatian bahkan diprioritaskan.

Begitu juga sebaliknya, karyawan tidak lagi bekerja karena tuntutan pimpinan dan aturan perusahaan, melainkan muncul dari kesadaran pribadi karena merasa ikut memiliki perusahaan. Jika seluruh awak perusahaan merasa ikut memiliki perusahaan tempat mereka bekerja, maka produktifitas karyawan dipastikan akan terjaga.

Perlengkapan Kerja yang Memadai

Perlengkapan kerja memiliki pengaruh yang besar terhadap produktifitas karyawan, karena tanpa peralatan kerja yang memadai mustahil karyawan akan dapat bekerja secara maksimal. Contohnya seorang desain grafis yang bekerja di sebuah perusahaan yang perangkat komputernya memiliki spesifikasi rendah.

Sulit baginya untuk dapat memaksimalkan kemampuannya dalam mendesain produk, karena komputer yang digunakannya tidak kompatible untuk digunakan menuangkan ide, gagasan dan kreatifitasnya dalam mendesain. Belum lagi lamanya loading komputer yang membuat banyak waktu terbuang.

Contoh lainnya untuk perusahaan yang tidak memiliki sendiri mesin fotokopi, membuat karyawan yang ingin menggandakan berkas terpaksa harus keluar meninggalkan kantor menuju ke tempat jasa fotokopi. Tentunya hal tersebut dapat membuang waktu dan mengurangi produktifitas karyawan.

Sistem Kerja yang Terstruktur

produktivitas kerja karyawan

Banyak persoalan yang muncul pada lembaga, instansi maupun perusahaan disebabkan karena tidak terstrukturnya sistem kerja dengan baik, dan salah satu persoalan tersebut adalah menurunnya produktifitas karyawan.

Sistem kerja yang tidak terstruktur membuat missunderstanding dan misscommunication kerapkali terjadi antara pimpinan dengan karyawan atau antar sesama karyawan yang dapat mengganggu aktifitas kerja.

Disebabkan karena kesalahpahaman, apa yang menjadi kebijakan pimpinan bisa disalahartikan oleh karyawan sehingga apa yang dikerjakan oleh karyawan tidak sesuai dengan harapan dari pimpinan dan perusahaan.

Akibat kesalahpahaman pula dapat menjadikan penumpukan pekerjaan di salah satu pos kerja, karena seluruh karyawan mengerjakan pos yang lain namun dengan meninggalkan salah satu pos sehingga terjadi penumpukan pekerjaan. Hal tersebut tentunya dapat mengganggu jalannya roda perusahaan.

Dampak buruk lainnya dari sistem kerja yang tidak terstruktur adalah munculnya kesalahpahaman antar personal dalam perusahaan yang membuat hubungan personal diantara mereka menjadi tidak baik. Jika kondisi seperti ini tidak secepatnya diatasi tentunya akan dapat mengganggu produktifitas karyawan.

Menciptakan Hubungan Personal yang Baik

Selain hubungan kerja, wajib kiranya sebuah perusahaan menciptakan hubungan personal yang baik antar sesama karyawan maupun antara karyawan dengan pimpinan. Hubungan personal yang baik ini besar dampaknya dalam menjaga produktifitas karyawan karena siapapun tidak akan pernah lepas dari masalah, baik masalah di dalam perusahaan maupun masalah pribadi di luar perusahaan.

Pada titik tertentu, dinamika permasalahan tersebut dapat mengganggu aktifitas kerja karyawan dan jika dia bekerja bersama tim maka kinerja tim secara keseluruhan dapat ikut terganggu.

Disinilah pentingnya membangun hubungan personal yang baik dari seluruh awak perusahaan. Karena jika yang terbangun hanya hubungan kerja, maka saat karyawan menghadapi persoalan yang menyangkut hal-hal pribadi, seperti konflik dengan keluarga, bertengkar dengan pacar, persoalan ekonomi atau permasalahan pribadi lainnya, sulit bagi HC (Human Capital) maupun pimpinan perusahaan untuk masuk ke dalam ranah pribadi karyawan meski tujuannya untuk membantu memecahkan persoalan. Jadi, jika produktifitas karyawan menurun, jangan langsung karyawan yang divonis bersalah, tapi lakukan evaluasi terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab menurunnya produktifitas tersebut.

Gravatar Image
Penulis dan praktisi keuangan yang menyukai marketing, IT dan sepakbola. Rutin menulis di Dunia Keuangan dan berbagai media lainnya. Berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagai profesional di dunia keuangan. Situs pribadi: SiminKing.com

Leave a Reply